Persepsi Ketuhanan

Diorama dunia biarkanku amati mereka.
Indahnya hidup dalam persepsi ketuhanan.
Adidaya, omnipotensi, lebih dari ikarus.

Aku hanya bertanya, tanya dalam benak sejak awal zaman.
Dalam senyawa yang kau panggil jiwa.
Adakah nyawa, sebuah butir kosmis yang siuman?

Letak prioritasmu pada harap yang kusisip dalam buta.
Aku adalah dirimu, senyawa yang bernyawa.
Hitam bukan warna, ia representasi dunia.

Empati, aku adalah serpihan lelah jiwa
Vallium injeksi, beri aku damai
Akan resah pada mereka, sosialita



Prajurit Kerah Putih

Bangkit menyongsong fajar
Menuju perwayangan tanpa drama
Dengan dalang tanpa rasa manusia
Demi hidunya, dan mereka

Mereka adalah prajurit berkerah putih
Hulubalang berdasi hitam rapi
Pembela setia tiran dan berhala duniawi
Raut kelam jaga loyal kokoh gedung menjulang tinggi

Menjual waktu, membeli masa lalu
Tanpa sadar mengobat pilu dengan rindu
Akan apartemen, smartphone dan kemeja sutera
Menukar ceria keluarga, menyuap paksa harta sendu
Bahagia yang semu

Bengkit berderik , berisik
Mereka hanya hantu dari masa lalu

Berlari pantang henti, semangat pudar mati
Mereka ditelan mimpi yang mengagresi

Merangkak menuju tenggat nominal
Mereka tercekik dan mati terkikik

Selalu naif dan tergiur
Baginya hidup tanpa ajal
Tak pasti, hidupkan mimpi
Bayang janji yang terjejal

Ini adalah manuskrip
Zaman menyeret boneka yang mendamba sebuah urip
Indikasi raga bersarang jiwa lemah
Yang beralih dengan tekad ingin merubah
Hidup singkat penuh sesal
Dengan awal sebuah mimpi tanpa akal

Para manusia yang bermujahid
Pada ranah moneter
Dengan hidup stagnan, dan bekal sejuta angan

Beri aku judul !

Langit tak kunjung biru
Bagiku monokromatik
Mega adalah bara
Hujani diksi menghardik

Angin lantunkan indahnya dera
Mentari sampaikan hangatnya derita
Dunia berikan aku duka yang ceria

Dunia
Satu kata, "hipokrit"
Batasi ceria, setemporer karbit
Tak puas buatmu sendu,
Hanya ladang janji yang telah layu

Tataplah aku
Jiwailah diksiku
Amatilah
Mata sedalam jelaga
Simpan kata dan cerita
Yang tak bersuara
Terlalu takut, alibi selalu sama

wahai alam

Maka izinkanlah aku,
Terbang menyusuri pekatnya samudra
Selami dinginnya langit biru
Mendaki bintang yang selalu membara

Karena indah bagi kalian untuk melupakan
Cukup sulit bagiku jika terlupakan
Mengkin hanya hamba yang melantuntkan
Bahkan kata tanpa pengucapan

Jiwa yang buta

Biarkan aku lupa
Akan tangis dan tawa
Akan ada dan tiada
Juga musnah dan cipta

27032014

Regup kasih, memekik geram tersulut girang
Inversi tragedi, tabuh jantung seritme genderang perang
Asosiasikan rasa, merantai jiwa yang tak lagi bermain
Menggenangi Hipotalamus dengan Serotonin, Dophamine dan Endorphin

Kita dan Cita

euforia, gelak tawa ,ceria rupa mega
sambangi aku, bintang merah menyala
sapa aku , asa , ceria mentari fajar
vivid , kromatis, bahagia setiap pendar