Dua Rupa

Malam larut tak berisik. tak pula ia sunyi.
saat seharusnya kutundukkan kepala untuk menikmati selapis kapuk di peraduan ini, tak jarang beberapa isu dan benih pikir muncul tuk dibabat menjadi praduga.

Ah.. praduga...
Siapakah aku yang boleh menduga ? menyimpan pikir ambigu dan menghakimi terhadap individu lain.
siapa juga aku yang boleh meramal dan menyimpulkan segala ?

Memang aku hanya seorang remaja penimba ilmu di sumur kesempatan yang telah kering. walaupun belum lama kutapakkan kaki di ladang pendatang ini, berbagai masalah kerap muncul menghadang jalannya nikmat ini.
Walaupun begitu, aku tak sendiri menapak disini. sepengetahuanku, telah kubawa pula hampir selusin manusia untuk menemani perjalanan ini dengan alasan kesetiaan seorang teman terhadap mereka yang menganggapku begitu juga. well, eye for an eye, huh ?



Tapi, apa hutang budi yang memperkuat ikatan ?
apakah ketergantungan perasaan yang menyatukan beberapa insan ?
seberapa besarkah hal itu ? mengapa tak juga dapat mempertahankan ? mengapa hanya memulai ?
Jika beberapa sandungan seperti Hasrat, Uang, Cinta dapat memandu belati mengasahkan matanya pada kerongkongan sahabatmu, maka apa yang tersisa dari indahnya sebuah persahabatan ?
tak jarang bahkan teman hanya menjadi selembar kertas tisu terhadap kepedihan.
Dinding coret yang dipenuhi segala keluh kesah.
Berbaris kalimat dalam surat yang sarat akan amarah.
atau sebatas Kembang api yang kau nyalakan dan kau ledakkan hingga kepingannya dapat menghibur hati sedihmu ?
Ya ! Hati sedihmu yang seakan menyimpan beribu masalah dan berjuta rintangan tak terpecah. layaknya negara dunia ketiga yang berhutang demi oknum birokrasi sementara tak mampu menghidupi bahkan hanya warganya.

Kesedihanmu akan hal hal kecil yang membuatmu melupakan betapa indahnya dunia saat kau hapus air mata. bahkan juga mengalihkanmu dari derik kecil tawa manusia yang peduli akan kehadiranmu.
Mungkin air mata itu akan mengering sesaat sebelum kau sapu. tinggalkan jejak kesedihan dan kelemahan yang seharusnya tak terekspos.

Tidakkah kau malu kepada dirimu ? Saat ragamu berusaha tampil tegap, jiwamu meringis dalam perih akan persoalan kecil yang juga tak ingin kau atasi.
Mengapa tak lagi kau atasi ? Asa-kah yang hilang dari dirimu ?
Jikalau kubisa, akan ku-sumpalkan secercah motivasi dan kegirangan kedalam mulut manja-mu.
Selalu berharap teman hanya saat sedih dan berharap akan dijamu.
Jika kau berpikir diri ini yang kau basahi dengan air mata kesedihan tanpa arti-mu tak dapat merasa sedih, maka kau se-naif para pemimpi yang merindukan bulan.
Melupakan perkara terkecil yang layaknya terpikirkan bahwa aku juga manusia walau anomali.

Mungkin ini saatnya kau bertanya tentang kesedihan-ku yang tak pernah kau cicipi.
akan pribadi ini yang berjalan tertawa saat terluka, dan ceria saat berduka.
akan jiwa ini yang tetap tak menumpahkan laporan dosanya saat terpecah belah.
akan beribu statistika ketidak-beruntungan yang tak pernah ku-presentasikan.
akan goresan belati pengkhianatan yang kubiarkan terobati oleh waktu dan kepercayaan.

Dan mungkin jawaban itu tak pernah kau dapati. karena aku saat ini tak peduli.
tak juga ragu dan tak juga mengkhianati.
karena tak semudah itu dunia ini buat asa-ku kepadamu akan mati,. akan hilang terlupakan. terpijak dan mengerang.

Akan kau rasakan suatu saat nanti. akan kegelisahanku saat melayani kesedihan searahmu.
saat aku yang selalu menantimu dengan berlapis otot memvisualisasikan keceriaan.
menimbal balik setiap masalah yang kau adukan tanpa dambaan.
menunjukkan jika aku ini juga punya wajah...





Wajah yang dikomposisikan oleh Dua Rupa
...

Diri ini menanti fajar yang tak kunjung datang.
Secangkir kafein merayu dan menggoda dengan semerbak bau.
Saatnya menutup cerita ini dan kembali beraktifitas.

Selamat Hari Rabu !






edit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebagai manusia ber-norma , komentar anda seharusnya mencerminkan pribadi anda :)